JAKARTA Keuntungan reasuransi nasional sebesar Rp3,2 triliun mengalir ke luar negeri akibat kapasitas reasuransi Tanah Air yang terbatas, sehingga pelaku usaha menilai perlunya satu perusahaan reasuransi yang berkapasitas besar-untuk menanggung risiko dalam negeri.
Dirut PT Maskapai Reasuransi Indonesia Robby Loho mengatakan sekitar 56% dari perolehan premi bruto perusahaan asuransi di Indonesia diasuransikan. "Dari jumlah tersebut hanya 20% yang mampu ditampung oleh reasuransi dalam negeri dan sebagian besar lari ke reasuransi luar negeri," kata Robby akhir pekan lalu. Menurut dia, hal itu menunjukkan keterbatasan kapasitas reasuransi domestik yang tidak cukup menanggulangi premi yang mengalir ke luar negeri. Pada 2008, premi bersih yang lari pada pertanggungan luar negeri mencapai Rp9,l triliun dan yang kembali melalui klaim dan komisi sebesar Rp5,9 triliun.
"Itu artinya sebesar Rp3,2 triliun keuntungan bersih reasuransi Indonesia berada di luar negeri, yang juga memengaruhi neraca devisa yang selalu defisit dan menunjukkan perusahaan asuransi domestik sangat lemah dalam hal ini," katanya. Dia menambahkan, kemampuan kapa-sitas dalam negeri ini terlihat dari modal yang dimiliki oleh empat perusahaan reasuransi domestik yang pada akhir 2009 mencapai Rp731 miliar atau naik 35,2% dari pencapaian tahun sebelumnya, yaitu RpS41 miliar.
Apabila dibandingkan dengan kapasitas reasuransi sejumlah negara di Asia, Indonesia menempati urutan terbawah dengan total modal sendiri US$60 juta dengan perolehan premi US$237 juta. India memiliki total modal sendiri sebesar US$1,2 miliar, China US$6 miliar, Singapura S$l miliar, dua perusahaan di Malaysia total US$400 juta dan Thailand sebesar US$80 juta.
Kondisi tersebut, lanjutnya, menunjukkan Indonesia membutuhkan suatu perusahaan reasuransi yang besar dan kuat bagi kapasitas pertanggungan dalam negeri. Robby menjelaskan perlunya perusahaan reasuransi nasional tersebut terkait dengan wacana tiga perusahaan reasuransi dalam negeri akan digabung, sehingga posisi modalnya meningkat.
Selain itu, katanya, ada satu perusahaan yang akan mendapat sutikan dana dari pemerintah sehingga modalnya menjadi Rpl triliun. Sebelumnya, PT Jamsostek berencana menggandeng sejumlah BUMN untuk ikut menyuntikkan dana ke PT Reasuransi Internasional Indonesia (Relndo).
Sumber: Bisnis Indonesia